Hama tikus dan kecoa bisa mendiami dan beranak pinak di mana saja. Tak hanya di rumah atau di gudang, di kapal perang pun, hama tersebut bisa berkembang biak.

Ini berlangsung pada KRI Tanjung Kambani 971. Sehingga usaha fumigasi perlu ditunaikan pada kapal perang jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) yang sandar di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kolinlamil Letkol Laut (K) dr. Herman Gofaradi, Sp.OT menjelaskan aktivitas fumigasi anggota dari program kerja Diskes Kolinlamil yang diselengggarakan tiap tiap triwulan.

Fumigasi kapal ditunaikan bersama dengan skala prioritas pemeliharaan kapal perang dari serangan hama tikus, kecoa, lalat, laba-laba dan hama lainnya yang bisa merusak kelengkapan peralatan mengoperasikan kapal perang.

Fumigasi ini termasuk bisa membasmi nyamuk DBD maupun jenis nyamuk anopheles yang bisa membuat penyakit malaria yang kemungkinan bersarang di kapal perang,” jelas Herman melalui siaran pers yang diterima Jatimnet.com.

Menurut Herman, fumigasi ini diinginkan bisa menciptakan dan menambah lingkungan sehat di didalam kapal perang, lebih-lebih bagi anak buah kapal sepanjang melakukan aktivitas dan aktivitas di kapal perang didalam aktivitas operasi maupun sepanjang di pangkalan.

 

“Untuk memperlancar pelaksanaan fumigasi, Komandan KRI Teluk Kambani 971 Letkol Laut (P) Masrurun, S.E., M.Tr (Hanla), memerintahkan semua prajuritnya menopang tim kesehatan agar pelaksanaan fumigasi berlangsung lancar, efektif, dan aman,” terang Kadiskes.

Saluran, areal di kapal hingga ke pojok-pojok, tiap tiap celah lubang yang ada, ditutup menggunakan bahan plastik dan kertas. Sedangkan wilayah terbuka dibantu bersama dengan tiang-tiang penopang bersifat kayu lalu ditutup lembaran plastik kaca, agar rongga-rongga udara yang keluar bisa diminimalisir hingga obat fumigasi bisa bekerja maksimal.

Menurut alumni Sepa PK TNI 1996 ini, hama yang berada di kapal perang bisa terbasmi tanpa tersedia yang lolos layaknya tikus, kecoa, lalat dan laba-laba serta hama lainnya.

Pelaksanaan aktivitas fumigasi jadi dari penyemprotan/pengasapan hingga bekerjanya obat secara efektif diperlukan waktu kurang lebih 20 hingga 24 jam bersama dengan situasi ruang-ruang kapal perang tertutup rapat bersama dengan menggunakan obat jenis Methyl Bromide 98 persen.

 

Selesai fumigasi, sesudah itu ditunaikan pengeluaran asap yang memiliki kandungan obat tersebut bersama dengan membuka ruang-ruang kapal dan ditunaikan penyedot udara bersama dengan membangkitkan blower/penyedot udara hingga dinyatakan situasi safe dan sehat sesuai alat pengukur kesehatan.

Kegiatan fumigasi ditunaikan di bawah pengawasan Kapten Laut (K) drg. Jarot Wicaksono selaku perwira pengawas lapangan didalam pelaksanaan fumigasi Diskes Kolinlamil.

 

KRI Tanjung Kambani 971 merupakan tidak benar satu kapal angkut personel di jajaran Kolinlamil yang terlalu aktif menopang pengangkutan personel dan termasuk tidak benar satu kapal yang aktif dikunjungi masyarakat.

Terakhir, kapal ini menopang pelayaran/Joy Sailing rombongan mahasiswa Universitas Pertahanan yang melakukan upacara Tabur Bunga di laut didalam rangka memperingati Hari Bela Negara di perairan teluk Jakarta Kepulauan Seribu, beberapa waktu lalu.

Categories: Uncategorized