Pengertian Pendidikan Demokrasi

Secara fundamental pendidikan demokrasi untuk melahirkan “budaya demokrasi baru ” dalam rangka untuk merealisasikan aturan demokrasi yang ideal. Demokrasi bukan hanya dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat atau keterkaitan langsung rakyat dalam memutuskan politik, tetapi lebih dari itu.

Demokrasi didalamnya tersangkut keadaan yang aman untuk menyosialisasikan pendidikan nilai- nilai sebagai idaman dan keinginan. Oleh karenanya demokrasi bukan hanya mengarah pada keadaan realita aturan atau mekanisme yang telah ada, pendidikan demokrasi harus sanggup lakukan inovasi-inovasi yang baru untuk perkembangan demokrasi.

Pendidikan demokrasi dalam makna lebih detil bisa disimpulkan sebagai usaha dengan sadar untuk mengganti proses publikasi demokrasi dalam warga hingga mereka benar-benar pahami mekanisme demokrasi yang bagus dan akan direalisasikan.

Menurut Sosolog Kampus Erlangga, Hotman M Siahaan kultur demokrasi untuk bangsa Indonesia belum terjaga hingga pemerintahan harus berani ambil trobosan lewat pendidikan demokrasi. Ini bisa ditunjukkan dengan ramainya tindakan pekerja atau protes mahasiswa yang usai dengan benturan fisik.

Diskursus demokrasi tidak tampil, pada hal seharusnya demokrasi membuat kesepakatan diskusi di antara rakyat dan pemerintahan. Tetapi wawasan itu tidak tampil walau pemerintahan sudah usaha merealisasikannya.

Keadaan ini diperburuk dengan beragam peraturan yang tidak berpihak pada kebutuhan rakyat seperti peningkatan harga bahan bakar minyak. Pemerintahan harus berani berlaku tegas dan cepat untuk menyelematkan kritis ekonomi dan membuat peraturan yang komperhensif untuk kebutuhan peningkatan demokrasi di Indonesia.

Peraturan pemerintahan tidak demokratis yang fokus pada kebutuhan penguasa tentu berpengaruh pada tanda-tanda berlangsungnya perselisihan, ketidak jujuran, rendahnya budaya malu, KKN, bahkan juga pada nasionalisme yang rendah.

Peraturan demokrasi harus mempunyai nilai faedah, keadilan dan kebebasan, kemakmuran untuk warga. Oleh karenanya dibutuhkan satu eksperimen sosial berbentuk peraturan dalam membuat karakter bangsa lewat pendidikan demokrasi.


Pengertian Pendidikan Demorasi

Pendidikan demokrasi pada hakekatnya menuntun peserta didik supaya makin dewasa dalam berdemokrasi dengan menyosialisasikan nilai-nilai demokrasi, supaya sikapnya menggambarkan kehidupan yang demokratis.

Dalam pendidikan demokrasi ada dua hal yang perlu ditegaskan, demokrasi sebagai ide dan demokrasi sebagai praksis. Sebagai ide bicara berkenaan makna, arti dan sikap sikap yang termasuk demokratis, sedang sebagai praksis sebenarnya demokrasi menjadi mekanisme.

Sebagai satu mekanisme performa demokrasi terlilit satu ketentuan main tertentu, jika dalam mekanisme itu ada orang yang tidak mematuhi ketentuan main yang sudah disetujui bersama, karena itu aktiviatas itu akan menghancurkan demokrasi dan jadi anti demokrasi. Pekerjaan seorang pengajar ialah menyosialisasikan dua tataran itu dalam ide dan fraksisnya, hingga peserta didik pahami dan turut turut serta di kehidupan demokrasi.

Dalam menyosialisasikan nilai demokrasi memerlukan komitment beberapa elit politik, figur warga, guru, stake holders pendidikan semua warga, dan demokrasi. Publikasi Pendidikan demokrasi harus memerhatikan beberapa prinsip diantaranya:

“Pendidikan demokrasi ialah satu proses, pendekatan yang dipakai secara komperhensip, pendidikan ini sebaiknya dilaksanakan secara aman baik di lingkungan sekolah, rumah dan warga, semua simpatisan dan komune turut serta di dalamnya.

Training pendidikan demokrasi perlu diselenggarakan untuk kepala sekolah, beberapa guru, siswa-murid, orangtua siswa, dan komune pimpinan yang disebut fundamental utama. Perlu perhatian pada background siswa yang turut serta pada proses kehidupan demokrasi. Perhatian demokrasi harus berjalan lumayan lama, dan evaluasi demokrasi harus diintegrasikan dalam kurikulum secara praksis di sekolah dan warga.

Pendidikan demokrasi harus diperkirakan dengan matang oleh stake holders baik beberapa ahli demokrasi sebagai think-thank, kepala sekolah, beberapa guru, orangtua siswa, figur figur warga dan agama.

Pendidikan demokrasi ini harus memperhatiak nilai- nilai secara uiniversal dan holistik. Kesuksesan pendidikan demokrasi dengan keluaran hasilkan peserta didik yang mempunyai kapabilitas individual dan kapabilitas sosial yang demokratis dan aktif hingga hasilkan masyarakat negara yang bagus.

Dalam menyosialisasikan nilai-nilai demokrasi pimpinan resmi dan non resmi bertanggungjawab untuk merealisasikan kehidupan demokrasi baik ranah organisasi negara (state), ormas (civil state), ranah istitusi dunia usaha (pasar institution). Semua petinggi negara, petinggi pemerintahan memiliki tanggung-jawab jadikan kedudukannya sebagai media evaluasi pendidikan demokrasi.

Dalam menyosialisasikan nilai-nilai demokrasi dibutuhkan pendekar, pejuang demokrasi seperti Gandhi, Mandela, Martin Luther King, Jr. yang tak pernah gentar, patah semangat atau frustasi walau halangan, rintangan, lingkungan tidak penjara menunggunya, dan aman. Dengan gagah berani meneriakkan publikasi pendidikan demokrasi untuk merealisasikan nilai eqalitarian seperti kami kutip berikut ini:

“We shall over come 2X We shall over come, someday O, deep in my heart I do believe, We shall over come somedaya, We walk hand in hand 2X We walk hand in hand someday O, deep in my heart I do believe We walk hand in hand someday. We shall live in peace 2X We shall live in peace someday O, deep in my heart I do believe We shall live in peace someday.

Jadi nilai demokrasi harus dibawa seorang ahli yang yakini kebenaran demokrasi sebagai ideologi bagus harus dimasukkan pada tiap hati (individual, pribadi) supaya satu hari kelak kehidupan demokrasi dan perdamaian akan diwujudkan.

Karena ada benih demokrasi yang telah disemaikan dalam keluarga, sekolah dan warga diharap tiap individual bisa mengaplikasikan demokrasi dalam totalitas kehidupan berkebangsaan dan bermasyarakat. Modal demokrasi yang telah ada pada individual sebagai tempat yang subur untuk angkatan penerus untuk merealisasikan kehidupan bersama dalam merealisasikan warga sipil (civil society). Ditambah kembali pada evaluasi dan publikasi pendidikan demokrasi bisa digunakan ide

learning to do, learning to be, learning to now, learning to live together. Apa lagi jika guru, orangtua siswa, pemuka agama, pemuka warga, elit politik, dan petinggi mempunyai komitment yang tinggi untuk merealisasikan masyarakt yang demokratis dengan ide “Ingarso sung tuladho, Ing madyo mangun karso, Ttut wuri handayani”.

Sumber: https://www.seputarpengetahuan.co.id/

Categories: Informasi