Informasi berbentuk indrawi sangat penting tatkala memasuki otak mengirim sinyal apapun sebagai pengetahuan atau berita. Ketika menerangkan metodologi psikoterapi NeuroLinguistic seorang akademisi mengidentifikasikan tiga bentuk indrawi yang menjadi saluran penyampaian suatu informasi: visual (penglihatan), auditori (pendengaran), dan kinestetis (gerak dan sentuhan). Bentuk yang satu dengan yang lain dibedakan antara komponen eksternal dengan komponen internal. Pada kesempatan kali ini, penulis akan bertutur soal bagaimana seseorang menjadi penerjemah tersumpah melalui cara belajar yang khas sesuai dengan kepribadian yang dimiliki. Mungkin akan memberi guna bagi calon penerjemah atau pemilik biro jasa penerjemah

Penerjemah visual terbentuk dari cara belajar lewat visualisasi, baik dengan mencari citra eksternal atau menciptakan citra mental tentang hal yang sedang dipelajari. Kecerdasan spasialnya (spatial intelligence) tinggi. Mungkin sebelum dapat mengerti atau memahami sebuah gagasan atau sekumpulan gagasan abstrak, mereka harus membuat gambar diagramnya dulu. Mereka cenderung menjadi good speller -pengeja yang baik-karena imajinasi mereka mampu memahami kata yang ingin dieja. Melihat dokumen dengan “photo graphic memory” (ingatan yang sangat tajam, seperti foto) merupakan pekerjaan penerjemah visual. Bahkan ketika memori dokumen tidak cukup fotografis (tajam), Penerjemah visual mengingat kata, angka, dan citra grafis yang pernah mereka lihat jauh lebih baik daripada dokumen dokumen yang pernah mereka kerjakan atau naskah naskah yang pernah mereka baca tanpa visualisasi.

Penerjemah visual-eksternal menerjemah segala sesuatu paling baik dengan menyaksikan hal-hal tersebut atau melihat gambarnya praktisnya melalui media gambar. Mereka menyukai gambar-gambar di papan tulis atau overhead projector, slide dan video, selebaran atau grafik komputer. Penerjemah bahasa visual-eksternal paling baik mengingat kata dan frasa baru dengan menuliskannya atau melihat kata dan frasa itu secara tertulis. Seorang pembelajar visual eksternal yang sedang berada di negeri asing akan melewatkan banyak waktunya untuk jalan-jalan dan melafalkan papan nama setiap toko dan jalan. Pembelajar visual eksternal mungkin pada awalnya kebingungan bila melihat wujud tulisan yang lain: huruf Cyril atau Yunani, huruf Hebrew atau Arab, huruf Cina atau Jepang, sebab dunia lebih banyak menggunakan huruf Roman. Tulisan tulisan “asing” tadi pada awalnya tidak menampilkan makna visual sehingga tidak cocok untuk memori visual. Selama pembelajar visual-eksternal harus memeriksa kata kata menurut huruf per huruf, biasanya kata-kata itu tidak mungkin dihafalkan dengan melihatnya tertera dalam wujud tulisan asing. Kata-kata itu harus disalin dalam tulisan bahasa asli pembelajar sendiri agar memori visualnya bisa berfungsi. Biasanya penerjemah visual-eksternal tidak menjadi juru bahasa. Bahkan, di mata mereka, juru bahasa (interpreter) seolah-olah tidak memegang “teks sumber” sama sekali, sebab “teks” itu tidak bisa dilihat oleh mereka.

Jika untuk suatu pekerjaan menerjemah disediakan gambar atau diagram, mereka bersikeras mendapatkannya. Jika mungkin, lebih baik lagi apabila kunjungan ke suatu pabrik atau konteks nyata lainnya digambarkan dalam bentuk teks. Bagi orang-orang ini, penerjemahan seringkali merupakan proses memvisualisasikan sintaksis teks-sumber sebagai suatu barisan spasial (spatial array) dan menyusun kembali bagian-bagian tekstual spesifik agar memenuhi syarat-syarat sintaksis bahasa-sasaran.

Penerjemah jenis ini akan jenuh setengah mati dengan ilmu linguistik kontrastif (contrastive linguistics) yang ber usaha menyusun perbandingan untuk keseluruhan bahasa.

Pembelajar visual-internal (visual-internal learners) be lajar paling baik dengan menciptakan citra visual tentang segala sesuatu di dalam benak mereka. Hasilnya, mereka sering dianggap sebagai tukang mengkhayal, penyair atau cenayang bila mereka mampu mengungkapkan citra-citra mereka tentang orang lain dengan kata-kata. Pembelajar visual-internal paling baik mempelajari kata dan frasa bahasa asing dengan menggambarkan kata dan frasa itu di dalam benaknya, yaitu dengan menciptakan suatu citra visual dari objek yang dipaparkan jika objek itu memang ada, atau menciptakan citra yang berhubungan dengan bunyi atau penampilan atau “warna” kata jika objek terse but tidak ada. Sebagian pembelajar-bahasa visual-internal menghubungi-hubungkan keseluruhan bahasa dengan sa tu warna. Setiap citra yang mereka hasilkan untuk setiap kata atau frasa dalam bahasa tertentu akan diberi warna biru, kuning, atau apa saja, dengan corak tertentu. Penerjemah visual-internal juga terus-menerus membuat visualisasi kata dan frasa yang mereka terjemahkan. Bila tidak ada diagram, gambar mesin atau proses, mereka membayangkannya. Jika kata dan frasa yang sedang diterjemahkan tidak memiliki gambaran visual yang nyata-misal nya, pada teks matematika-mereka menciptakan gambaran visual itu berdasarkan tampilan suatu persamaan atau hubungan asosiatif lainnya.

Pada Kantor jasa penerjemah tersumpah yang penulis kelola, ada beberapa penerjemah yang benar benar berhasil sampai dianggap penerjemah senior, karena mengikuti cara belajar sesuai dengan kepribadianya. Tidak sulit untuk mengetahui kepribadian seseorang, calon penerjemah cukup baca buku buku tentang bagaiamana cara menajdi penerjemah handal dan bagus. Disana pembaca akan disuguhkan dengan metode pembelajaran berdasarkan kepribadian yang supaya bisa terjalin komunikasi alam sadar dan bawah dengan maksimal. 

Categories: Informasi