Wabah COVID-19 telah membuat kondisi bagi banyak orang jadi serba sulit. Salah satu pihak yang mengalaminya adalah para mahasiswa semester akhir, khususnya dalam sistem pengerjaan skripsi.

Pemberlakukan Physical Distancing membuat kondisi jadi serba tidak enteng bagi mahasiswa dalam sistem pengerjaan skripsi. Pembatasan pertemuan fisik, baik di sekolah, kampus, dan tempat-tempat lainnya dirasakan telah jadi rintangan dalam sistem pengumpulan data dan juga sistem bimbingan.

Sebagian mahasiswa terhitung menjadi sistem bimbingan secara online dirasa kurang efektif. Ada pula yang menjadi terbebani kuota internet. Kesulitan-kesulitan selanjutnya muncul dari kemunculan petisi dari para mahasiswa yang keliru satunya menuntut penghapusan skripsi atau penerbitan kebijakan pengganti penyelesaian skripsi .

Kita memahami ada problem yang dirasakan para mahasiswa semester akhir di sedang wabah COVID-19 ini. Di sini, keringanan dan beragam dukungan untuk para mahasiswa dalam penyelesaian tugas akhir jadi penting. Akan tetapi, skripsi tetaplah wajib dituntaskan. Memang tak mudah, tapi wajib dipandang sebagai tantangan yang wajib di lewati untuk mampu merampungkan studi.

 

Sebagai tantangan

Sripsi merupakan perihal penting. Karya yang tak sekadar jadi penanda orang layak bergelar sarjana. Untuk menuntaskan skripsi, ada sistem panjang yang wajib di lewati mahasiswa, di mana sistem selanjutnya akan banyak menggembleng mahasiswa itu sendiri. Tak hanya secara intelektual, tapi terhitung mental, sosial, lebih-lebih spiritual.

Banyak perihal akan ditempa dalam diri mahasiswa sepanjang sistem pengerjaan skripsi, sehingga sistem itu sesudah itu membentuk dan menyempurnakan mutu seorang mahasiswa sehingga “pantas” jadi seorang sarjana.

bahwa membuat skripsi bukan hanya cuman riset, melacak data, dan konsultasi semata. Membuat skripsi merupakan sistem mengasah ketahanan diri bagi intelektual dalam mengkonstruksi simulasi untuk berkarya dan bekerja sesudah memasuki kehidupan nyata (pascakuliah).

Di dalam kerja independen sistem skripsi kedokteran, mahasiswa wajib sabar dan tabah dalam menaklukkan diri sendiri. Adapun sistem bimbingan skripsi akan jadi puncak dari ketangguhan mahasiswa dalam menulis, menjelaskan, dan berargumentasi bersama dengan pembimbingnya.

Maka, di masa Revolusi Industri 4.0, memahami Bramastia, dalih bimbingan skripsi secara online tak efisien dikarenakan COVID-19, jaringan internet tak memadai, dan wajib muncul biaya kuota, seluruh itu bukan alasan rasional bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual.

Sebagai agen perubahan, idealnya mahasiswa punyai karakter pejuang, pantang menyerah menghadapi tiap-tiap tantangan. Tak hanya ilmu atau wawasan luas, mahasiswa wajib punyai motivasi pekerja keras, ulet, dan tetap menyukai tantangan.

Berbagai ada problem dalam pengerjaan tugas akhir dikarenakan wabah COVID-19 wajib dipandang sebagai tantangan yang wajib dihadapi. Berbagai tantangan dan ada problem selanjutnya memang akan menguji sejauh mana mahasiswa telah punyai karakter-karakter ideal sebagai seorang mahasiswa tersebut.

 

Perguruan tinggi wajib memudahkan

Meski begitu, dalam pengerjaan skripsi, mahasiswa semester akhir memang telah selayaknya mendapatkan keringanan. Menyikapi perihal tersebut, Kemdikbud memang terhitung telah menghimbau sehingga perguruan tinggi mampu memudahkan dan tidak mempersulit tugas akhir mahasiswa sepanjang wabah ini.Kemdikbud, pada intinya memberikan otoritas dan kewenangan bagi tiap-tiap perguruan tinggi untuk memutuskan kebijakan-kebijakan terbaik di sedang kondisi darurat COVID-19. Kebijakan tersebut, terhitung sekiranya memberikan keleluasaan dalam sistem pengerjaan skripsi.

Plt. Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Nizam menegaskan, untuk skripsi tidak wajib berbentuk pengumpulan data primer di lapangan/laboratorium. Ia mengatakan, metode dan waktunya mampu banyak variasi dan fleksibel cocok bimbingan dari dosen pembimbing.

“Jadwal ujian silahkan diatur cocok perkembangan, bentuknya tidak wajib konvensional, tapi mampu dalam bentuk penugasan, esai, kajian pustaka, analisa data, proyek mandiri, dsb., yang mutlak didasarkan pada learning outcome/capaian pembelajaran yg diharapkan. Jadwal praktik mampu digeser, akhir semester mampu digeser, kalender akademik mampu disesuaikan, yang tak boleh dikompromikan adalah mutu pembelajarannya,” kata Nizam, layaknya dikutip dalam Siaran Pers Kemdikbud Nomor: 079/Sipres/A6/IV/2020.

Hal selanjutnya jadi angin fresh yang wajib membuat mahasiswa semester akhir termotivasi untuk berjuang merampungkan tugas akhir meski di sedang wabah COVID-19. Situasi selagi ini memang sedang tidak mudah, tak hanya bagi para mahasiswa, tapi terhitung bagi pemerintah maupun seluruh elemen masyarakat.

Maka, kami wajib tetap saling membantu dan saling memotivasi. Dan sebisa mungkin, kami wajib mengupayakan untuk tetap di tempat tinggal dan menjaga jarak fisik demi memutus rantai penularan COVID-19 ini.

Categories: Uncategorized